Selasa, 23 Oktober 2012

Ikatan batin ibu dan anak

Ikatan Batin Ibu dan Anak

Sering Telepon untuk Cek Aktivitas Anak
            Aktivitas Jenny Paulus sebagai Kepala Sekolah Yos Sudarso memang membuat ia hampir setengah hari terpisahkan dengan kedua putri dan putranya, Flavina Wuryan Gratia Delaneira Pambudi atau yang biasa dipanggil dengan Neira serta Fridolin Wuryan Carebeth Javier Pambudi atau Javier. Namun Jenny menyiasatinya dengan sering menelepon kedua putri dan putranya tersebut.
            “Biasanya saya telepon mereka kayak sudah makan apa belum, sudah tidur siang atau belum,” cerita Jenny yang mengaku melakukan itu setiap harinya. Sedangkan ketika akhir minggu, Jenny dan suaminya, Julius Joni pasti akan menyempatkan waktu khusus untuk kedua buah hati mereka.
            Meski sehari-hari Jenny dan kedua putra serta putrinya hanya bertemu pada sore atau malam hari, namun tetap saja ada tanggung jawab yang tetap ia tanggung. Misalnya untuk menu makanan tetap menjadi urusan Jenny.
            “Walaupun ada orang yang juga menjaga anak-anak, tetap saja kalau makan misalnya, itu tanggung jawab saya untuk menunya apa,” aku Jenny.
            Kedekatan Jenny dan suaminya dengan kedua putri serta putranya juga seimbang. Jenny dan Julius mengaku tidak ada satu dari mereka yang terasa lebih dekat dengan kedua buah hati mereka.
            “Karena kita kalau tanggung jawab sama. Saling bantu lah. Jadi tidak ada yang salah satu lebih dekat. Sama saja,” ujar Jenny.
            Sebagai seorang ibu, Jenny mengaku terkadang sering memiliki perasaan tertentu jika salah satu dari buah hatinya akan sakit. Diakuinya, jika Neira atau Javier akan mengalami sakit, Jenny akan memiliki perasaan tidak enak terlebih dahulu. (ika)

Sapa Anak Mulai Pagi Hari
            Memang ada anggapan, ibu dituntut harus memberi perhatian sepenuhnya kepada anak dan tidak bisa ke mana-mana. Ibu harus di rumah dan hampir sepanjang hari harus bersama anaknya.
Namun pendapat itu sudah tidak tepat lagi. Kehadiran ibu mendampingi anak bukan berarti harus mengekang keinginan dan aktivitas seorang ibu. Ibu yang bekerja dan ingin meniti karier tetap bisa memberi perhatiannya kepada anak.
Seorang ibu yang bekerja di luar rumah tetap bisa melaksanakan fungsinya sebagai ibu dengan baik dan lembut. Sambil memberi perhatian kepada anaknya, ibu juga tetap mempunyai kesempatan berprestasi di tempat kerjanya. Yang penting, saat anak membutuhkan perhatian, ibu bisa memenuhinya.
Kapan ibu memberi perhatian pada anaknya? Padahal ia bekerja dan waktunya sangat terbatas. Perhatian kepada anak ini dapat dilakukan mulai dari bangun pagi hari. Kalau bisa anak sudah dapat melihat wajah ibunya. Kemudian lakukanlah komunikasi dan bertanya pada anak.
            Jika ibu harus berangkat pagi sekali dan anak belum bangun dan kalaupun anak masih belum bangun, ibu bisa memberi ciuman atau belaian lembut di kepala anaknya.
            Di tengah-tengah kesibukan bekerja di siang hari, ibu disarankan menyempatkan diri menelepon. Sehingga anak akan mendengarkan suara ibunya. Apabila anak itu sudah bisa membaca, ibu bisa mengirim SMS (short message service) via telepon selulernya. Artinya, sang ibu masih bisa menyapa dan berkomunikasi di tengah-tengah kesibukannya.
            Apa yang dilakukan ibu jelas akan dirasakan sang anak. Anak merasakan perhatian berupa sapaan, pertanyaan dan berdialog. Hubungan agar anak merasa adanya kedekatan bisa pula dilakukan saat menjelang tidur. Bila ada waktu dan kesempatan sebaiknya ibu mengajak anaknya tidur. Lalu sebelum tidur sempatkanlah membacakan buku cerita.
            Sebaliknya ibu yang tidak bekerja dan sepanjang hari berada di rumah, belum tentu anak akan merasakan adanya kedekatan. Bisa saja kendati dekat secara fisik, tetapi ibu itu sibuk sendiri, seperti memasak, dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Di sela waktu luangnya, ibu justru lebih asyik menonton sinetron televisi. Kalau keadaan seperti itu, anak tidak akan merasakan kedekatan walau ibunya selalu bersama anaknya di rumah.
            Dalam menghadapi anak sakit jangan panik. Untuk itu, kaum ibu harus membekali diri dengan pengetahuan mengenai penyakit dari yang ringan hingga berat. Dengan pengetahuan akan membuat ibu lebih tenang saat anaknya sakit.
            Karena kepanikan, lanjutnya, selain membuat bingung dan gelisah juga berdampak pada anak. Anak menjadi rewel karena pengaruh emosi ibunya yang tidak tenang. Jadi, kelembutan dan kesabaran ibu diperlukan dalam merawat anak yang sakit. (net)


Sedekat apapun hubungan anak dengan ibu, tetap saja para ibu perlu membentuk prilaku anak untuk bisa mandiri. Antara lain yang perlu dilakukan adalah:
1. Tumbuhkan rasa aman dan nyaman
Kelewat lengket dengan orang tua sebetulnya merupakan ungkapan rasa tidak aman. Rasa ini umumnya muncul pada saat anak berada di luar rumah. Saat itu ia merasa harus terpisah dari keluarganya, terutama ayah dan ibu.
Rasa aman dan nyaman merupakan modal penting dalam melakukan berbagai aktivitas. Dengan merasa tenteram ia bisa bebas bermain yang berarti memudahkannya melepaskan diri dari kelekatan dengan orang tua.
2. Binalah rasa percaya diri
Rasa percaya diri erat kaitannya dengan kemampuan menjadi mandiri. Jika diteruskan, kemandirian adalah lepasnya ketergantungan anak dari orang tua. Pupuklah rasa percaya diri anak dengan memberinya kebebasan dan kepercayaan melakukan segala sesuatu, asalkan tidak berbahaya.
Contohnya, biarkan anak memutuskan sendiri hari ini akan memakai baju yang mana. Beri kesempatan padanya untuk mengenakan baju dan sepatunya sendiri, bahkan menyisir rambut. Melalui kesempatan dan kebebasan yang kita berikan, rasa percaya dirinya akan terpupuk. Dari hari ke hari ia jadi semakin yakin dapat melakukan tugas-tugas tadi.
Bila kebiasaan ini terpupuk dengan baik, nantinya anak dapat memutuskan apakah dia memang bisa dan harus melakukan sesuatu atau tidak. Jangan lupa, pengalaman pertama yang dirasa menyenangkan dan memberi kepuasan pasti akan mendorong anak untuk melakukannya kembali.
3. Hargai anak
Jangan pelit memberi penghargaan yang pas. Jangan pula menghubung-hubungkannya dengan pemberian materi. Pujian, belaian, ucapan kata-kata sayang dan hal-hal sejenis sudah cukup menumbuhkan rasa percaya diri anak.
            Penghargaan atas hasil yang dicapai anak juga merupakan fondasi bagi bangunan percaya dirinya. Setiap individu, termasuk anak pasti ingin mendapat penghargaan atas apa pun yang sudah dilakukannya. Termasuk bila masih terdapat kesalahan di sana-sini.
Pada anak yang merasa dihargai akan terbentuk konsep diri yang positif. Nah, konsep diri seperti itulah yang nantinya akan mendukung perilaku-perilaku positif.
4. Keleluasaan bermain
Biarkan anak bebas bermain bersama teman-temannya. Jangan lelah mendorongnya agar tertarik bermain bersama teman-teman. Memperbanyak hubungan anak dengan dunia luar, baik dengan teman-teman sebaya maupun dengan yang beda usia akan menguatkan rasa percaya dirinya.
Buang jauh sikap overprotektif yang hanya akan merusak rasa percaya dirinya. Larangan ini-itu hanya akan mematikan kreativitas anak yang selanjutnya memperkuat rasa ketergantungan pada orang tua. Nah, agar anak bisa diarahkan melakukan segala sesuatu sendiri, mulailah dari hal-hal kecil yang kemudian meningkat ke hal-hal besar.
            Bila dari awal rasa percaya diri anak relatif rendah, sementara ia juga kurang atau bahkan tidak mendapat stimulasi sama sekali, bukan mustahil akan makin sulit meminta anak tampil bersama orang lain. Tak heran, dalam melakukan aktivitas apa pun ia hanya mau bersama-sama dengan orang tua saja.
5. Perkenalkan lingkungan di luar rumah
Buka wawasannya dan beri ia alternatif kegiatan yang melibatkan banyak orang. Semisal mengajaknya ke rumah tetangga atau kerabat yang memungkinkannya bermain bersama kawan sebaya.
            Anak yang sudah memiliki rasa percaya diri umumnya akan lebih mudah diajak berkenalan dengan lingkungan luar rumah. Bermodal rasa percaya diri, anak lebih mampu diharapkan menekan rasa takut dan mindernya saat berada di lingkungan yang lebih luas. Kesempatan untuk mengenal lingkungan yang lebih luas inilah yang sepatutnya diberikan orang tua.
6. Hindari intervensi
Ketika anak mengalami masalah, orang tua sebaiknya jangan langsung menolong, apalagi mengambil alih semua permasalahan anak. Pola asuh semacam ini hanya akan membuatnya kurang memiliki citra diri positif dan semangat juang.
Pada anak yang mengalami masalah kelekatan, sikap orang tua yang ingin tampil sebagai dewa penolong dengan gemar main potong hanya akan menguatkan kelekatannya. Menghadapi masalah apa pun, anak merasa tak perlu berusaha. Soalnya, ia tahu persis orang tuanya akan segera turun tangan. Sikap ini kian mempertegas ketergantungannya.
Boleh jadi, intervensi orang tua dilakukan atas dasar rasa sayang. Tujuannya, membebaskan anak dari masalah. Namun kenyataannya, sikap seperti ini sama sekali tidak menguntungkan anak. Sebaliknya, kalau orang tua memang sayang, latihlah ia menolong diri sendiri. Mulailah dari hal-hal sederhana, seperti menyuap makanan sendiri.
Yang tidak kalah penting, janganlah mudah menyerah. Upaya yang merupakan salah satu dari tahapan belajar ini memang butuh waktu yang panjang di samping kesabaran.
7. Arahkanlah dan bukan malah memojokkannya
Jika anak keliru atau tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya, barulah orang tua boleh ikut nimbrung. Itu pun sebatas memberi arahan dan bukan merampas kesempatan. Hanya saja, arahan yang diberikan haruslah disampaikan secara bijak.
Penjelasan bijak yang bersifat mengarahkan akan sangat membantu dalam memperbaiki kesalahan tanpa membuat ketergantungannya jadi semakin kuat. Hindari pula sikap maupun kata-kata yang bersifat memojokkan, apalagi yang bernada menghujat. Kata-kata seperti itu hanya akan membuatnya merasa rendah diri dan takut mencoba atau melakukan sesuatu sendiri. Inisiatifnya surut ke batas minimum.
Kala mendapat tugas apa pun, ia akan selalu kembali ke orang tuanya tanpa berusaha hanya karena ia takut salah, dicemooh, dan dipojokkan. Yang lebih celaka, anak akan merasa orang tuanya selalu benar, sementara dirinya selalu salah, yang akhirnya kian menyulut ketergantungan.
8. Jangan kelewat menuntut
Orang tua, sebaiknya jangan terlalu menuntut anak untuk bisa melakukan apa saja sesuai standar tertentu. Misalnya, menuntut anak mengancing baju sendiri dengan sempurna. Bila tuntutan-tuntutan semacam ini dipaksakan kepadanya, sementara kemampuannya belum tumbuh dengan baik, hal itu hanya akan memunculkan konsep diri yang negatif. Padahal, agar bisa berkembang secara optimal, dibutuhkan suasana kondusif yang bisa memunculkan semua potensi anak.