Ikatan Batin Ibu dan Anak
Sering Telepon untuk Cek Aktivitas Anak
Aktivitas Jenny
Paulus sebagai Kepala Sekolah Yos Sudarso memang membuat ia hampir
setengah hari terpisahkan dengan kedua putri dan putranya, Flavina
Wuryan Gratia Delaneira Pambudi atau yang biasa dipanggil dengan Neira
serta Fridolin Wuryan Carebeth Javier Pambudi atau Javier. Namun Jenny
menyiasatinya dengan sering menelepon kedua putri dan putranya tersebut.
“Biasanya saya
telepon mereka kayak sudah makan apa belum, sudah tidur siang atau
belum,” cerita Jenny yang mengaku melakukan itu setiap harinya.
Sedangkan ketika akhir minggu, Jenny dan suaminya, Julius Joni pasti
akan menyempatkan waktu khusus untuk kedua buah hati mereka.
Meski sehari-hari
Jenny dan kedua putra serta putrinya hanya bertemu pada sore atau malam
hari, namun tetap saja ada tanggung jawab yang tetap ia tanggung.
Misalnya untuk menu makanan tetap menjadi urusan Jenny.
“Walaupun ada orang
yang juga menjaga anak-anak, tetap saja kalau makan misalnya, itu
tanggung jawab saya untuk menunya apa,” aku Jenny.
Kedekatan Jenny dan
suaminya dengan kedua putri serta putranya juga seimbang. Jenny dan
Julius mengaku tidak ada satu dari mereka yang terasa lebih dekat dengan
kedua buah hati mereka.
“Karena kita kalau tanggung jawab sama. Saling bantu lah. Jadi tidak ada yang salah satu lebih dekat. Sama saja,” ujar Jenny.
Sebagai seorang ibu,
Jenny mengaku terkadang sering memiliki perasaan tertentu jika salah
satu dari buah hatinya akan sakit. Diakuinya, jika Neira atau Javier
akan mengalami sakit, Jenny akan memiliki perasaan tidak enak terlebih
dahulu. (ika)
Memang ada
anggapan, ibu dituntut harus memberi perhatian sepenuhnya kepada anak
dan tidak bisa ke mana-mana. Ibu harus di rumah dan hampir sepanjang
hari harus bersama anaknya.
Namun
pendapat itu sudah tidak tepat lagi. Kehadiran ibu mendampingi anak
bukan berarti harus mengekang keinginan dan aktivitas seorang ibu. Ibu
yang bekerja dan ingin meniti karier tetap bisa memberi perhatiannya
kepada anak.
Seorang ibu
yang bekerja di luar rumah tetap bisa melaksanakan fungsinya sebagai ibu
dengan baik dan lembut. Sambil memberi perhatian kepada anaknya, ibu
juga tetap mempunyai kesempatan berprestasi di tempat kerjanya. Yang
penting, saat anak membutuhkan perhatian, ibu bisa memenuhinya.
Kapan ibu
memberi perhatian pada anaknya? Padahal ia bekerja dan waktunya sangat
terbatas. Perhatian kepada anak ini dapat dilakukan mulai dari bangun
pagi hari. Kalau bisa anak sudah dapat melihat wajah ibunya. Kemudian
lakukanlah komunikasi dan bertanya pada anak.
Jika ibu harus
berangkat pagi sekali dan anak belum bangun dan kalaupun anak masih
belum bangun, ibu bisa memberi ciuman atau belaian lembut di kepala
anaknya.
Di
tengah-tengah kesibukan bekerja di siang hari, ibu disarankan
menyempatkan diri menelepon. Sehingga anak akan mendengarkan suara
ibunya. Apabila anak itu sudah bisa membaca, ibu bisa mengirim SMS
(short message service) via telepon selulernya. Artinya, sang ibu masih
bisa menyapa dan berkomunikasi di tengah-tengah kesibukannya.
Apa yang
dilakukan ibu jelas akan dirasakan sang anak. Anak merasakan perhatian
berupa sapaan, pertanyaan dan berdialog. Hubungan agar anak merasa
adanya kedekatan bisa pula dilakukan saat menjelang tidur. Bila ada
waktu dan kesempatan sebaiknya ibu mengajak anaknya tidur. Lalu sebelum
tidur sempatkanlah membacakan buku cerita.
Sebaliknya ibu
yang tidak bekerja dan sepanjang hari berada di rumah, belum tentu anak
akan merasakan adanya kedekatan. Bisa saja kendati dekat secara fisik,
tetapi ibu itu sibuk sendiri, seperti memasak, dan mengerjakan pekerjaan
rumah lainnya. Di sela waktu luangnya, ibu justru lebih asyik menonton
sinetron televisi. Kalau keadaan seperti itu, anak tidak akan merasakan
kedekatan walau ibunya selalu bersama anaknya di rumah.
Dalam
menghadapi anak sakit jangan panik. Untuk itu, kaum ibu harus membekali
diri dengan pengetahuan mengenai penyakit dari yang ringan hingga berat.
Dengan pengetahuan akan membuat ibu lebih tenang saat anaknya sakit.
Karena
kepanikan, lanjutnya, selain membuat bingung dan gelisah juga berdampak
pada anak. Anak menjadi rewel karena pengaruh emosi ibunya yang tidak
tenang. Jadi, kelembutan dan kesabaran ibu diperlukan dalam merawat anak
yang sakit. (net)
Sedekat
apapun hubungan anak dengan ibu, tetap saja para ibu perlu membentuk
prilaku anak untuk bisa mandiri. Antara lain yang perlu dilakukan
adalah:
1. Tumbuhkan rasa aman dan nyaman
Kelewat
lengket dengan orang tua sebetulnya merupakan ungkapan rasa tidak aman.
Rasa ini umumnya muncul pada saat anak berada di luar rumah. Saat itu ia
merasa harus terpisah dari keluarganya, terutama ayah dan ibu.
Rasa aman
dan nyaman merupakan modal penting dalam melakukan berbagai aktivitas.
Dengan merasa tenteram ia bisa bebas bermain yang berarti memudahkannya
melepaskan diri dari kelekatan dengan orang tua.
2. Binalah rasa percaya diri
Rasa percaya
diri erat kaitannya dengan kemampuan menjadi mandiri. Jika diteruskan,
kemandirian adalah lepasnya ketergantungan anak dari orang tua. Pupuklah
rasa percaya diri anak dengan memberinya kebebasan dan kepercayaan
melakukan segala sesuatu, asalkan tidak berbahaya.
Contohnya,
biarkan anak memutuskan sendiri hari ini akan memakai baju yang mana.
Beri kesempatan padanya untuk mengenakan baju dan sepatunya sendiri,
bahkan menyisir rambut. Melalui kesempatan dan kebebasan yang kita
berikan, rasa percaya dirinya akan terpupuk. Dari hari ke hari ia jadi
semakin yakin dapat melakukan tugas-tugas tadi.
Bila
kebiasaan ini terpupuk dengan baik, nantinya anak dapat memutuskan
apakah dia memang bisa dan harus melakukan sesuatu atau tidak. Jangan
lupa, pengalaman pertama yang dirasa menyenangkan dan memberi kepuasan
pasti akan mendorong anak untuk melakukannya kembali.
3. Hargai anak
Jangan pelit
memberi penghargaan yang pas. Jangan pula menghubung-hubungkannya
dengan pemberian materi. Pujian, belaian, ucapan kata-kata sayang dan
hal-hal sejenis sudah cukup menumbuhkan rasa percaya diri anak.
Penghargaan
atas hasil yang dicapai anak juga merupakan fondasi bagi bangunan
percaya dirinya. Setiap individu, termasuk anak pasti ingin mendapat
penghargaan atas apa pun yang sudah dilakukannya. Termasuk bila masih
terdapat kesalahan di sana-sini.
Pada anak
yang merasa dihargai akan terbentuk konsep diri yang positif. Nah,
konsep diri seperti itulah yang nantinya akan mendukung
perilaku-perilaku positif.
4. Keleluasaan bermain
Biarkan anak
bebas bermain bersama teman-temannya. Jangan lelah mendorongnya agar
tertarik bermain bersama teman-teman. Memperbanyak hubungan anak dengan
dunia luar, baik dengan teman-teman sebaya maupun dengan yang beda usia
akan menguatkan rasa percaya dirinya.
Buang jauh
sikap overprotektif yang hanya akan merusak rasa percaya dirinya.
Larangan ini-itu hanya akan mematikan kreativitas anak yang selanjutnya
memperkuat rasa ketergantungan pada orang tua. Nah, agar anak bisa
diarahkan melakukan segala sesuatu sendiri, mulailah dari hal-hal kecil
yang kemudian meningkat ke hal-hal besar.
Bila dari awal
rasa percaya diri anak relatif rendah, sementara ia juga kurang atau
bahkan tidak mendapat stimulasi sama sekali, bukan mustahil akan makin
sulit meminta anak tampil bersama orang lain. Tak heran, dalam melakukan
aktivitas apa pun ia hanya mau bersama-sama dengan orang tua saja.
5. Perkenalkan lingkungan di luar rumah
Buka
wawasannya dan beri ia alternatif kegiatan yang melibatkan banyak orang.
Semisal mengajaknya ke rumah tetangga atau kerabat yang memungkinkannya
bermain bersama kawan sebaya.
Anak yang
sudah memiliki rasa percaya diri umumnya akan lebih mudah diajak
berkenalan dengan lingkungan luar rumah. Bermodal rasa percaya diri,
anak lebih mampu diharapkan menekan rasa takut dan mindernya saat berada
di lingkungan yang lebih luas. Kesempatan untuk mengenal lingkungan
yang lebih luas inilah yang sepatutnya diberikan orang tua.
6. Hindari intervensi
Ketika anak
mengalami masalah, orang tua sebaiknya jangan langsung menolong, apalagi
mengambil alih semua permasalahan anak. Pola asuh semacam ini hanya
akan membuatnya kurang memiliki citra diri positif dan semangat juang.
Pada anak
yang mengalami masalah kelekatan, sikap orang tua yang ingin tampil
sebagai dewa penolong dengan gemar main potong hanya akan menguatkan
kelekatannya. Menghadapi masalah apa pun, anak merasa tak perlu
berusaha. Soalnya, ia tahu persis orang tuanya akan segera turun tangan.
Sikap ini kian mempertegas ketergantungannya.
Boleh jadi,
intervensi orang tua dilakukan atas dasar rasa sayang. Tujuannya,
membebaskan anak dari masalah. Namun kenyataannya, sikap seperti ini
sama sekali tidak menguntungkan anak. Sebaliknya, kalau orang tua memang
sayang, latihlah ia menolong diri sendiri. Mulailah dari hal-hal
sederhana, seperti menyuap makanan sendiri.
Yang tidak
kalah penting, janganlah mudah menyerah. Upaya yang merupakan salah satu
dari tahapan belajar ini memang butuh waktu yang panjang di samping
kesabaran.
7. Arahkanlah dan bukan malah memojokkannya
Jika anak
keliru atau tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya, barulah orang tua
boleh ikut nimbrung. Itu pun sebatas memberi arahan dan bukan merampas
kesempatan. Hanya saja, arahan yang diberikan haruslah disampaikan
secara bijak.
Penjelasan
bijak yang bersifat mengarahkan akan sangat membantu dalam memperbaiki
kesalahan tanpa membuat ketergantungannya jadi semakin kuat. Hindari
pula sikap maupun kata-kata yang bersifat memojokkan, apalagi yang
bernada menghujat. Kata-kata seperti itu hanya akan membuatnya merasa
rendah diri dan takut mencoba atau melakukan sesuatu sendiri.
Inisiatifnya surut ke batas minimum.
Kala
mendapat tugas apa pun, ia akan selalu kembali ke orang tuanya tanpa
berusaha hanya karena ia takut salah, dicemooh, dan dipojokkan. Yang
lebih celaka, anak akan merasa orang tuanya selalu benar, sementara
dirinya selalu salah, yang akhirnya kian menyulut ketergantungan.
8. Jangan kelewat menuntut
Orang tua,
sebaiknya jangan terlalu menuntut anak untuk bisa melakukan apa saja
sesuai standar tertentu. Misalnya, menuntut anak mengancing baju sendiri
dengan sempurna. Bila tuntutan-tuntutan semacam ini dipaksakan
kepadanya, sementara kemampuannya belum tumbuh dengan baik, hal itu
hanya akan memunculkan konsep diri yang negatif. Padahal, agar bisa
berkembang secara optimal, dibutuhkan suasana kondusif yang bisa
memunculkan semua potensi anak.